Hati-hati
Sobat Nida, rasa malas adalah sejenis penyakit mental. Siapa pun yang
dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat
merugikan. Rasa malas sesungguhnya menggambarkan hilangnya motivasi
seseorang untuk melakukan pekerjaan, pengaruh malas ini cukup besar
terhadap menurunnya produktivitas.
Misalnya, di usia 30 tahun harusnya
seorang yang berpotensi menjadi penulis bisa menghasilkan ratusan cerpen
dan puluhan buku, tapi karena dia malas menulis, juga selalu
menunda-nunda “Besok aja deh!” akhirnya selama bertahun-tahun ia hanya
dapat merampungkan 5 naskah, itu pun sudah girang sekali.
Menurut (Edy Zaqeus: 2008) Malas
diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang
seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa
malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan,
suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll.
Karena malas, seseorang seringkali
tidak produktif bahkan mengalami stag. Badan terasa lesu, semangat dan
gairah menurun, ide pun tak mengalir. Akibatnya tidak ada kekuatan
apapun yang membuat kita bisa bekerja. Kalau dibiarkan saja, penyakit
malas ini akan semakin “kronis”.
Baca ini, Ndar!!!
Tips Memberantas Rasa Malas
1. Ganti “Kapan Selesainya?” dengan “Saya Mulai Sekarang!”
Apabila kita dihadapkan pada satu tugas
besar atau proyek, sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas
tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah
pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.
Katakan setiap kali kita bekerja: “Saya
mulai sekarang”. Cara pandang ini akan menghindarkan diri dari perasaan
terbebani, stress, dan kesulitan.
2. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Berpikir bahwa kita harus mengerjakan
sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan kita
menjadi malas mengerjakannya. Kita akan mencari seribu alasan untuk
menghindari tugas tersebut. Satu tip yang bisa kita gunakan adalah
mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin
mengerjakannya”.
Cara pikir seperti ini akan
menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa kita tidak harus
melakukan pekerjaan yang kita tidak mau. Kita mau mengerjakan tugas
karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak
lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan
sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya
adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa kita untuk
melakukan sesuatu, melainkan karena kita menginginkannya.